Memories of Jogja (Part II)


 Aku selalu percaya keajaiban itu ada.

Jogja, aku kembali. Kali ini aku tak sendiri. Aku bersama dua sahabatku Ria dan Rungky. Bertiga, kami ingin menghabiskan malam tahun baru di kota ini. Tapi kami tak naik kereta api, tiket sudah terjual habis. Terpaksa kami naik bis. Tidak, kami menyebutnya “kulkas berjalan” saking dinginnya AC di dalam bus meski telah kami matikan. Sepanjang perjalanan kami hanya duduk meringkuk di balik selimut. Bahkan aku harus menutup kepalaku dengan sarung bantal karena tak kuat menahan dingin yang menerjang.

Keesokan paginya, kami tiba di Jogja dengan penuh ceria. Lagi-lagi kami harus berhutang budi kepada Maman yang telah bersedia mencarikan kos-kosan mini untuk kami tinggali selama liburan tiga hari. Kamar kos itu letaknya tepat disamping kamar kos-nya. Dengan biaya Rp. 50.000,- selama tiga hari. Harga segitu sangatlah murah bila dibandingkan dengan harga hostel yang sedang melonjak menjelang tahun baruan.

Pagi itu, Maman melihat keletihan yang tercetak jelas di wajah kami pasca perjalanan panjang itu. Ia merelakan kamar kos-nya untuk menjadi tempat peristirahatan kami. Awalnya sih untuk sementara, namun karena kamar yang kami sewa tidak menyediakan fasilitas kasur –iya, murni hanya kamar tok-  jadi kami menumpang di kamar Mamen selama tiga hari kami disana. Maman sukses “tergusur” dan dengan legowo, penuh iklas tidur di kamar temannya. Sempat tak enak hati, tapi ia meyakinkan kami bahwa itu bukanlah hal yang patut untuk di besar-besarkan.

Suasana kamar kos Mamen yang nyaman.

Kebaikannya tidak hanya sampai disitu saja, bahkan ketika siang harinya kami hendak pergi ke Parangtritis, Ia bela-belain meminjami kami motor untuk menghemat biaya transportasi. Namun kami menolak, dengan alasan tak ingin merepotkan. Sudah terlalu banyak kebaikan yang ia lakukan sampai kami tak tahu harus membalasnya dengan apa. Dipinjami kamarnya saja, itu sudah lebih dari cukup buat kami bertiga.

Akhirnya ia menyerah juga memaksa kami untuk mengendarai motornya –dan juga motor temannya. Karena hari itu ia berhalangan manemani kami ke Parangtritis karena masih harus kuliah, ia memberikan kami petunjuk untuk menuju kesana.

***


Mengejar angin.

Mereka berdua bagai kura-kura yang mendamba samudera.

Begitu tiba di pantai Parangtritis kami langsung menunju bibir pantai, berlalri kecil, melawan hembusan angin yang menerpa wajah dengan tangan terentang bagai pasrah. Aku berjalan santai, mengamati tingkah polah mereka sambil sesekali mengambil gambar.

Sore itu awan berwarna kelabu. Namun tak sampai turun hujan. Suasana ramai karena ini sedang musim liburan, tidak seperti suasana pertama kali aku kemari. Kuedarkan pandanganku mencari objek yang menarik untuk kubidik dengan lensa kamera. Dan di pantai itu, kutemukan cinta bertebaran disana-sini. Wajar bila aku kemudian iri.

Ada sepasang muda-mudi yang tengah asyik bercengkrama di bibir pantai. Tubuh keduanya basah. Dan tampak lelah. Mungkin itu sebabnya hingga kemudian mereka berdua memutuskan itu duduk sejenak, memberi jeda tanpa terganggu meski ombak sering kali datang menerpa. Dunia serasa milik berdua.

Parangtritis yang romantis.

Pemandangan itu sontak menyedot ingatanku ke masa lalu.

Mendadak, aku teringat dia. Saat SMP dulu, kami merayakannya pesta perpisahan di pantai Anyer. Suasana kurang lebih seperti ini : ramai. Semua merayakan pesta kelulusan dengan gegap gempita. Namun tidak denganku. Mendapati kenyataan bahwa esok kita tak lagi bersama, apakah itu bisa membuatku lantas tersenyum bahagia? Di saat semua orang bercanda gurau di dekat bibir pantai atau sekedar menikmati alunan musik dekat bale-bale, aku malah menjauh diri dari keramaian. Bersama kedua sahabatku Umi dan Ayu, kami mencari tempat sepi, menyendiri. Berjalan menelusuri bibir pantai hingga tiba di ujung tepi karang. Disana kami menghabiskan siang itu bersama dalam diam. Mencoba mengenang apa yang sudah terjadi selama tiga tahun kebelakang.

Setelah ini lantas apa? Aku bertanya dalam hati.

Kutatap deburan ombak yang datang bergulung-gulung dengan wajah bingung. Masih belum kutemukan jawabnya. Esok, segalanya akan berubah. Kami berpisah.

Benar bahwa aku dan dia hanya sekelas selama setahun. Namun rasa cinta tidak bisa diukur dengan hitungan waktu. Sampai detik ini, rasa itu masih ada. Hanya kadarnya saja yang berbeda. Kami telah sepakat, bahwa persahabatan tak selayaknya dinodai oleh cinta yang tak semestinya ada. Ah, aku benci dengan kata-kata itu, tapi begitulah adanya. Kami adalah teman.

“An, tolong potoin dunk,”

Suara Ria medadak menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh kearahnya yang kini sudah duduk manis di atas pasir yang sudah ia tulisi dengan tulisan “Mardiko”. Aku hanya tersenyum simpul dan kemudian mengambil beberapa gambar dirinya yang tengah tersenyum bahagia. Tanpa kata, aku tahu gadis ini tengah merindukan kekasihnya yang tengah berada di Bali.

Dan aku sadari, aku pun sangat merindukan sosok manis itu hadir kembali dalam hidupku.

***

Konsekuensi yang harus kami ambil ketika berlibur di musim liburan adalah kelonjakan semua harga dan membludaknya manusia. Hampir seluruh tiket transportasi mengalami kenaikan, begitu juga tiket masuk ke objek wisata. Belum lagi kita harus berhimpit-himpitan di bus yang mini dengan penumpang yang mayoritas adalah turis. Tujuan kami hari itu adalah Borobudur.

Suasana ramai di Candi Borobudur.

Impian untuk mengunjungi situs sejarah itu sudah tertoreh sejak lama. Mungkin ketika aku melihat gambarnya di sampul belakang atlas. Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Salah satu dari tujuh keajaiban dunia ada di Indonesia. Ada perasaan bangga ketika bangunan candi yang megah itu dapat bersaing dengan menara Eiffel yang cantik, atau Tembok Besar Cina yang termasyur itu. 

Dan begitu aku melihat bangunan itu untuk pertama kalinya, satu hal yang aku ucapkan : syukur. Meski suhu udara saat itu sangat panas, namun tak melelehkan semangatku untuk mengabadikan setiap moment yang ada disana. Aku menikmatinya. Bahkan meski matahari semakin terang berpendar, dehidrasi mulai menyerang, kaki mulai pegal, tapi jika berada di tempat yang telah lama kita idam-idamkan, maka semua itu tidak jadi soal. Sungguh.

Sebenarnya alasan mengapa aku senang mengunjungi tempat wisata di Indonesia adalah aku tidak ingin “kalah” dengan orang asing. Banyak teman atau orang asing yang aku temui di jalan bercerita bahwa mereka pernah mengunjungi ini dan itu. Aneh saja rasanya, kita sebagai warga Indonesia kok malah tidak pernah ke tempat yang dimaksudkan sii turis asing tadi. Karena Indonesia bukan sekedar Bali. Maka mimpiku adalah mengunjungi setiap provinsi di Indonesia, agar kelak, jika aku diberi kesempatan untuk pergi keluar negeri, aku bisa bercerita banyak tentang negeriku tercinta ini.

Sesederhana itu.

Aku sadar sepenuhnya dunia pariwisata kita masih tertinggal jika dibandingkan dengan negeri tetangga. Tapi saya selalu meyakini, kita bisa mendukung kemajuan pariwisata kita dengan satu langkah kecil : berpartisipasi. Caranya, kunjungilah tempat-tempat wisata yang masih jarang di kunjungi wisatawan, lalu share di social media (Facebook, twitter). Tindakan sederhana semacam ini saya yakini mampu meningkatkan geliat pariwisata kita. Satu langkah kecil yang akan berdampak besar bila dilakukan bersama-sama.

Wisata kami di Borobudur kami tutup dengan berbelanja pernak-pernik di pusat perbelanjaan tak jauh dari lokasi candi. Ria yang tadi sudah tampak kelelahan mendadak mendapatkan spirit baru begitu mendengar kata “belanja”. Dengan kalap, ia membeli ini dan itu. Aku dan Rungky hanya menemani sesekali membantunya menawar barang yang ia inginkan. Kami berdua layaknya dua orang bodyguardyang menemani Paris Hilton shopping. Tas-tas plastik yang kami bawa, itu bukan milik kami.

Kalian pasti sudah tahu siapa pemiliknya.

***

Lelah mulai menggelayuti tubuh. Kaki mulai pegal. Namun semuanya terkalahkan oleh keingginan kami merayakan malam tahun baru di pusat kota. Meski jarak yang kami tempuh cukup jauh, namun tak menyurutkan langkah kami menuju ke Jl. Malioboro, tempat tujuan kami menghabiskan malam terakhir di tahun 2011.

Suasana malam tahun baru di Jogja sangat ramai. Seluruh kendaraan tumpah ruah di jalan. Macet terjadi di mana-mana. Bis Trans Jogja yang menjadi andalan kami ternyata sudah tidak beroperasi, padahal jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Sementara jarak dari Monjali menuju Malioboro cukup jauh. Mulanya kami berniat berjalan kaki menuju kesana. Namun, ditengah perjalanan, kondisi kaki kaki yang kelelahan setelah seharian di Bodobudur membuat kami harus mengambil satu tindakkan : naik becak. Sebenaranya bisa naik taxi atau ojek, tapi harganya sangat tidak bersahabat dengan kantong kami. Beruntung, kami menemukan abang becak baik hati yang mau mengantar kami menuju Malioboro dengan harga yang relatif terjangkau.

Meneleusuri kota Jogja di malam hari, di atas kendaraan tradisional, membuat senyum kami terus menggembang meski harus duduk berhimpitan. Beberapa kali terjebak macet, namun dengan sigap abang becak yang tidak sempat kutanyakan namanya itu membawa kami ke jalan-jalan “bebas hambatan”. Tak sampai satu jam kami tiba di stasiun Tugu. Disanalah kami diturunkan untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Malioboro yang tinggal selangkah.

***

Diantara keriaan, selalu ada cinta yang dirayakan dalam diam.
-Windy Ariestanty-

Kata-kata itu aku temukan di buku perjalanan yang berjudul “Life Traveler, suatu ketika di sebuah perjalanan”. Buku yang tidak hanya menyuguhkan cerita perjalanan, tetapi juga nilai-nilai apa saja kita dapatan ketika sedang melakukan sebuah perjalanan. Interaksi antar manusia dengan menggunakan bahasa hati.

Dan malam itu, untuk sejenak, aku kembali terdiam. Perasaan itu hadir kembali tanpa permisi. Membuat 30 menit yang aku lewati berlalu hanya untuk memikirkan dia. Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Apakah menanti kembang api yang akan menyala sebentar lagi? Apakah aku ada ketika ia memejamkan mata? Atau tuk sekedar menyebut namaku di dalam dekap doa yang ia panjatkan dalam diam?

Entahlah.

“An, liat!”

Welcome 2012

Suara Ria membuayarkan lamunku. Seketika aku mengikuti telunjuknya yang mengarah ke langit yang gelap. Aku mendongak. Langit tak lagi hitam. Ada warna-warni cahaya yang sekarang menemaninya. Langit tak lagi sepi, ada kembang api yang menciptakan bunyi. Suasana mendadak ramai. Suara terompet terdengar dimana-mana ketika jam menunjukan pukul 00:00 WIB. Semuanya bergembira. Senyum bertebaran dimana-mana. Peluk dan cium menjadi pemandangan umum.

2011, selamat tinggal...

Sejenak, aku melupakan masa laluku untuk bergabung dalam pesta akbar ini. Untuk kali ini, aku tak ingin menjadi si penyediri. Aku ingin larut dalam kemeriahan ini. Bahkan kalau bisa sampai aku lupa diri dan berpesta pora hingga pagi. Tapi setelah kurang lebih seperempat jam kami berdiri, memandang langit yang tak lagi sepi, kami memutuskan untuk kembali. Bukan karena tak senang dengan kemeriahan, tapi tubuh kami sudah kelelahan. Bahkan Ria sudah gontai ketika berjalan. Saking capeknnya, kami akhirnya memutuskan untuk naik taxi menuju Monjali.

2012, kami datang...

                                                                                                                    Bekasi, 20 Agustus 2012
                                                                                                                    00:44 WIB






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memories of Jogja (Part I)


Malam takbiran, 2009...

Di tengah dekap malam dan hawa sejuk pegunungan desa Pakis Baru, Pacitan, aku dan seorang kawan berbincang di sebuah warung bakso pinggir jalan, tak jauh dari pasar tradisional Gedangan. Suara takbir terus berkumandang.  Dan semangkuk mie ayam hangat sanggup meredam bunyi perut kami yang keroncongan.

“Suatu hari nanti, aku akan mengunjungimu di Jogja...” janjiku pada kawanku itu. Namanya  Maman.

“Bener ya, aku tunggu.” Jawabnya antusias.

Aku hanya mengangguk, pasti. Kurapatkan jaket yang membungkus tubuhku saat kabut mulai datang. Malam itu adalah awal dari segala petualangan ini berasal.

***

Dua tahun kemudian, janji itu terwujud, tepat di penghujung Januari 2011. Dengan membawa uang secukupnya, aku berangkat dengan kereta api ekonomi dari stasiun Senen menuju Jogja. Perjalanan memakan waktu sekitar 11 jam. Pukul 9 malam kereta yang membawaku ke kota gudeg mulai meninggalkan ibu kota dengan segala hiruk pikuknya. Aku duduk di pinggir dekat jendela, tempat favoritku. Sambil menatap gambar yang datang dan menghilang, aku kemudian terlelap dalam dekap sang malam.

Keesokan harinya, pukul 8 kereta berhenti di stasiun terakhir : Lempuyangan. Begitu keluar dari stasiun, kudapati Maman telah berada disana. Duduk santai di atas motor sembari melambaikan tangan. Menyapaku dengan senyum ramahnya yang tak pernah pudar. Kami bersalaman, bertukar kabar dan saling bercanda gurau.

Hari itu, aku siap menjelajahi kota pelajar ini bersamanya.

Liburanku kali ini benar-benar singkat. Hanya sehari aku disana karena besoknya sudah harus kembali ke Jakarta. Karena itu, tak lama setelah istirahat di kamar kosnya yang mungil, sorenya ia mengajakku mengitari kota Jogja dengan mengendarai sepeda motor.

Perjalanan itu kami mulai dari icon kota Jogja yang paling terkenal, yaitu Tugu. Bangunan yang berusia hampir tiga abad itu terletak di tengah perempatan jalan, banyak dilalui kendaraan, namun mendadak Maman menghentikan motornya sejenak tepat di samping bangunan itu dan berkata padaku,

“Sentuhlah Tugu ini, maka kau akan kembali lagi kemari suatu hari nanti...”

Aku tahu itu hanya mitos. Namun, dalam diam aku melakukannya. Bukan lantaran aku percaya, namun tak ada salahnya untuk di coba. Just for fun. Itu sah kan?

Kami melanjutkan perjalanan menelusuri jalan Malioboro yang sangat tersohor itu. Disana, bibirku tak pernah kendur untuk tidak tersenyum saking bahagianya. Inikah surga belanja? Jujur kukatakan, aku hampir kalap melihat barang-barang yang dijajakan. Mulai dari kaos khas Jogja, batik, gantungan kunci, makanan, semuanya menggoda untuk dibeli.

Dan aku tak sanggup menahan godaan itu.

Uang yang ada di dompet kini telah berubah wujud menjadi beberapa potong baju dan oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di Jakarta. Hanya sisa beberapa ribu untuk membeli tiket pulang.

Malam harinya kami memutuskan untuk dinner di luar. Satu hal yang selalu ingin aku coba ketika berada di Jogja, yaitu makan di tenda lesehan. Dan malam itu, keinginan itu terwujud. Kami makan di salah satu lesehan pinggir jalan. Di hadapan kami sungai dan perumahan warga yang sempat diterkena dampak dari letusan gunung Merapi. Menu malam itu : nasi kucing sambal terasi dan segelas kopi hangat. Rasanya jangan ditanya.

: nikmat!

Petualangan malam kami tak berhenti sampai disitu. Maman membawaku mengunjungi alun-alun kota yang tersohor berkat dua pohon beringin yang menjadi daya tarik masyarakat. Konon, menurut mitos yang beredar, bila kita bisa berhasil melewati celah diantara dua pohon beringin itu dengan mata tertutup, maka keinginan kita akan terwujud. Entah benar atau tidak, aku tak peduli. Yang penting aku mencobanya. Maman menutup mataku dengan kain hitam yang ia bawa. Kelihatannya mudah. Tapi ternyata, dari sekian percobaan yang aku lakukan, tidak ada satu pun yang berhasil.

Aku gagal.

Keesokan harinya kami pergi ke selatan Jogja, tepatnya ke pantai Parangtritis. Seperti yang selalu saya katakan : saya selalu menyukai pantai. Pemandangan yang tersaji selalu sama. Matahari, debur ombak, angin sepoi-sepoi, pasir halus dan dereta pohon kelapa. Hanya satu yang berbeda : sepi. Karena bukan musim liburan, hanya kami berdua wisatawan yang berkunjung siang itu. Ya, hanya berdua. Dan tak banyak yang bisa kami lakukan disana selain berjalan di tepi pantai sembari melihat gulungan debur ombak yang saling bekejaran menuju daratan, menjilati kaki kami yang berusaha meninggalkan jejak di pasir namun selalu gagal karena segera terhapus oleh kedatangannya.
Namun, kedamaian itu aku temukan justru disana. Ketika sepi menghampiri. Di saat tidak ada siapa-siapa, selain kami berdua.

Kami kembali ke pusat kota diringi rintik hujan bulan Januari. Kereta yang membawaku ke Jakarta berangkat pukul empat. Masih ada waktu beberapa saat sebelum kereta berangkat. Dan ketika kami melewati Tugu lagi, aku meminta Maman menghentikan motornya barang sejanak. Aku ingin menyentuhnya sekali lagi.

“Apa kau percaya dengan yang aku katakan?” tanyanya seraya tertawa.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku tidak percaya, aku hanya menaruh harap. Bahwa suatu hari nanti aku akan kembali lagi kemari. Ke kota ini. Melihat keramahan setiap sudut kota, nuansa Jawa yang masih melekat kuat di tengah masyarakat, menikmati alunan musik tradisional sembari makan di lesehan pinggir jalan. Semua itu, ingin aku ulangi lagi.

***

Ini yang paling aku benci : perpisahan.

Seluruh penumpang berdesak-desakan masuk ke dalam kereta. Aku menatap sahabat kecilku itu untuk yang terakhir kalinya. Masih kuingat kata-katanya sebelum aku masuk ke dalam stasiun.

“Apakah kau tak bisa tinggal disini lebih lama lagi? Tidakkah liburanmu ini terlalu cepat...?”

Aku merangkulnya untuk yang terakhir kali. Menjabat tangannya erat sebelum kulepas, berat. Ini bukan liburan, tapi ini adalah sebuah perjalanan yang harus aku lakukan untuk menemukan jalan “pulang”.

“Aku pamit...” kataku singkat sambil melepaskan rangkulan persahabatan, lalu melangkah pergi menuju kereta api yang sudah siap berlari.

Kereta bergerak perlahan meninggalkan kota pelajar yang kian senja. Aku duduk bersandar sembari mengatur napas yang kian berat terasa. Esok, ketika aku membuka mata, ada realita yang harus aku hadapi seperti biasa. Jadi, malam ini, biarkan aku menutup mata, membuka cakrawala pikiran, merajut mimpi dalam kenangan.

Hari itu, Maman tak pernah tahu bahwa aku datang ke Jogja bukan saja karena aku ingin menepati janji, tapi aku ingin “lari” sejenak dari kehidupan ini.

Kuharap ia tahu, betapa beruntungnya aku telah mengenalnya.

                                                                                                                     Bekasi, 16 Agustus 2012
                                                                                                                    Di kamar, 03: 49 WIB

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah (Perjalanan) Kita


Oleh : Waspuhan Muriadi

Mentari.
           Awan.
                     Hijau.
                              Biru.
                                     Rumah.
                                                 Pantai.
                                          Bukit.
                       Cakrawala.
            Senja.
Petang.


Semuanya silih berganti. Satu per satu, gambar-gambar tadi terekam bergiliran, seiring laju bis yang terus berjalan. Di kaca jendela, kulihat segalanya dari sudut sini dengan nyaman. Perjalanan. Satu kata yang –entah mengapa-  selalu membuatku ingin mengulanginya. Lagi dan lagi. Kecanduan. Mungkin kata ini yang sanggup mewakili semua diksi yang mendadak bersembunyi. Dan kini, ijinkan aku untuk memutar kembali kenangan itu ke dalam serangkaian kalimat yang mungkin akan kau ingat.

24 April 2012...

Hari itu, menjadi saksi bahwa kita pernah bersama dalam sebuah perjalanan luar biasa. 5 hari, 4 malam, 3 tempat, 2 universitas, 1 tujuan : persahabatan. Jika aku tak salah hitung, jumlah kita saat itu 34 orang, ditambah 3 orang dosen. Pukul 08.00 WIB kita berangkat dari Jakarta menuju Malang. Kurang lebih perjalanan memakan waktu hampir 24 jam. Tidak ada kata bosan meski perjalanan ini cukup melelahkan. Benar bahwa kita kedinginan terperangkap di dalam “kulkas berjalan”, namun aku merasa hangat ketika berada dalam radius kalian. Mendengar riang canda, gelak tawa, cerita tentang si “dia” dan juga menertawakan kebodohan kita. Tahukah kawan, semua itu aku rekam di sini? di hati. Hingga nanti...

Jangan lupa kata sandi : “S...S...S” (‾⌣‾)♉

25 April 2012...

Malang. Ada yang menyebut kota ini dengan julukan Swiss Van Java. Aku lebih suka menyebutnya kota kenangan. Nanti kalian tahu sendiri alasannya. Kesejukan dan keindahan tata kotanya membuat mata tak jemu untuk melihatnya. Senang rasanya –dan sebenarnya ingin teriak- ketika melewati alun-alun kota Batu yang menawan dengan taman kotanya yang indah. Inikah taman kota yang aku saksikan di TV tempo hari? Kapan kotaku –Bekasi- bisa seasri itu?


Tiba di hotel kami langsung menuju kamar masing-masing. Aku memilih untuk beristirahat sejenak. Tapi sebagian besar teman-temanku memilih untuk berenang di kolam renang karena ogah rugi. “Ngapain gak berenang? Rugi tau udah bayar mahal-mahal gak berenang,” begitu kata mereka. Aku hanya mengiyakan saja tanpa banyak kata. Bagai mahluk amphibi yang mendamba samudra, begitu pula mereka yang tak sabar ingin menceburkan diri ke kolam begitu kolam renang sudah dibersihkan dan dibuka untuk umum. Dari atas balkon, kusaksikan canda tawa kalian yang membuatku ikut tersenyum. Ajakan kalian yang –hampir- menggodaku untuk ikut serta. Dari kamera lensa, aku mengabadikan momen itu...


Di pantai ini pernah ada cerita tentang kita...

Balekambang. Dari dulu aku suka pantai. Satu kata yang menggambarkan sebuah tempat dimana dua dunia bertemu : daratan dan lautan. Meski sore itu air laut tengah surut, namun tak menyurutkan kebahagian kita ‘tuk menikmati birunya laut, luasnya cakrawala, deburan ombak di kejauahan, belaian angin yang melambaikan nyiur, serta pasir putih. Tidak cuma jejakku, tapi kenangan indah kita tercetak disana...


Malamnya kita mampir ke sebuah toko yang menjual aneka jenis es krim. Kalau tidak salah namanya Toko Oen. Memasuki toko ini aku merasa kembali ke tahun 40-an. Ya, toko ini memang menawarkan nuansa tempoe doeloe. Tidak hanya citra rasa es krim yang di pertahankan, bangunannya pun masih bergaya Belanda lengkap dengan meja-kursinya yang antik. Meski bukan pecinta es krim sejati, tapi aku cukup menikmati. Rasa manis itu, masih terasa hingga kini...

26 April 2012...

Universitas Brawijaya. Untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki disana. Terpana, antusias, gugup, senang, dan bangga. Perasaan tadi bercampur aduk jadi satu. Aku terpana melihat betapa luasnya kampus ini jika di bandingkan UNJ yang mungil itu. Tapi aku antusias, karena hari itu aku akan bertemu sahabat-sahabat jauhku, tidak hanya dari UB tapi juga dari UNY. Sebagai mantan ketua BEM aku harus mempresentasikan program kerja BEM dalam bahasa Perancis. Dan jujur, aku gugup, takut membuat kesalahan dan mempermalukan teman-teman, dosen dan juga universitasku. Tapi aku senang segalanya berjalan dengan lancar. Aku bangga telah mengalahkan rasa takut itu. Dan hari itu, untuk pertama kalinya, sebagai mahasiswa yang selalu merasa dirinya bodoh, aku merasa dihargai. Aku merasa... berarti. Tidak akan kulupa senyum bangga dari ketiga dosenku, tepuk tangan dari teman-temanku. Aku hanya bisa tersenyum sembari menyembunyikan kebahagiaanku. Terimakasih yang tak terhingga untuk kalian semua. Tak akan kulupa moment berharga itu...

27 April 2012...


Bromo. Puncak dari perjalanan akan berakhir disini. Pagi-pagi buta kita beradu cepat dengan mentari menuju Bromo. Membelah kabut yang mengapung di udara. Melawan hawa dingin yang menggelitik tanpa ampun. Jalanan terjal tak kami hiraukan. Tujuan kami cuma satu : di punggung bikit itu kami ingin melihat sunrise menyapa Bromo dengan manisnya. “Bonjour Bromo” begitu kata mentari. Dan kami menjadi saksi, bahwa keindahan alam itu terjadi tepat di hadapan kami...
Agaknya kami belum puas jika tidak menjejakkan kaki di lautan pasir berbisik di kaki gunung Bromo. Fajar mulai menyingsing. Perlahan, kabut mulai menyingkir. Turun dari mobil, hal pertama yang kulakukan adalah bersyukur. Paling tidak dua dari 3 B (Borobudur, Bromo, Bali) sudah tercapai. Tinggal satu B lagi : Bali.


Panorama dari atas Bromo

Mulanya, aku ingin menikmati perjalanku menuju puncak Bromo dengan berjalan kaki. Tapi mendadak aku tergoda untuk menunggangi kuda (selain hampir kehabisan tenaga) padahal perjalan tinggal setengah jalan lagi. Hingga tibalah aku di depan tangga menunju kawah Bromo. Perlahan namun pasti, satu per satu tangga mulai kudaki. Napas kian berat dan tenaga makin terkuras. Bukan aku saja yang kepayahan, dua temanku (Kiki dan Fajar) sudah hampir menyerah ditengah perjalanan. Dan... tibalah aku sampai di bibir kawah Bromo. Aku terdiam sejenak, teringat pesanku pada sahabatku Inti sebelum kami tiba disini : bahwa kami ingin membuang parasaan cinta itu disini. Tapi... yang ada galau. Aku gamang. Haruskah aku mengubur seluruh kenangan itu disini?

Mendadak aku tak rela melepasnya...

Aku turun kembali menuju lautan pasir dengan perasaan jauh lebih baik. Lega. Aku menemukan jawabnya. Aku...iklas bila harus begini adanya. Persahabatan ini jauh lebih baik dari pada cinta yang dipaksa. Namun senyum itu, ijinkan aku untuk menyimpannya bagi diriku sendiri. Bunga Edelweis itu telah mati, tapi tidak dengan perasaan itu. Selamanya, aku ingin mengabadikannya.

28 April 2012...

Jakarta, kami kembali...

Di dalam bus yang membawa kami pulang ke Jakarta, ada perasaan yang bersemayam di benak kami masing-masing. Entah karena lelah, atau karena apa, perjalanan pulang ini lebih banyak kami lewatkan dalam diam. Aku kembali duduk di pojokan sembari melihat potongan-potongan gambar tadi. Mentari. Awan. Hijau. Biru. Rumah. Pantai. Bukit. Cakrawala. Senja. Petang. Mencoba mengulang waktu yang mustahi ‘kan kembali. Tapi paling tidak, kenangan yang kami cipta ‘kan terukir abadi...

Bekasi, 5 Agustus 2012
23:14 WIB

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar dari sang Kumbang Hitam[1]



Oleh : Waspuhan Muriadi[2]

... kisah ini berawal dari masa dimana untuk pertama kalinya aku bertemu dengannya di ruang G 305...

Ia duduk di sudut ruang dengan pandangan terfokus ke buku yang ada di tangan kanan. Sesekali ia berdeham. Atau sekedar merenggangkan tangan supaya tidak kram. Wajahnya kucal. Penampilannya tak kalah kumal. Kulitnya hitam legam dengan rambut yang agak tebal dan panjang. Kumis tipis tumbuh di atas bibirnya yang tebal. Mungkin karena itu teman-temannya menjulukinya si hitam. Tapi aku lebih suka memanggilnya si kumbang. Nanti kalian akan tahu sendiri sebabnya.

Tidak ada sesuatu yang membuat ia tampak istimewa. Tapi entah kenapa seperti ada magnet yang membuat perhatianku tertarik dengan gayanya yang berbeda. Terdorong rasa penasaran, aku duduk di sampinganya dan memperhatikan apa yang sedang ia lakukan.

“Suka baca puisi juga?” tanyanya tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca.

“Ah, eh ... iya.” Jawabku salah tingkah seperti anak kecil ketahuan mencuri. “Tapi sebenarnya aku lebih suka baca cerpen atau novel. Puisi terkadang membuatku tidak mengerti...”

“Tapi setiap bait puisi memiliki arti tersendiri.”

“Ya, kau benar. Hanya saja...” kalimatku menggantung di udara. Otakku berputar-putar mencari jawabannya. Tapi sialnya aku titak berhasil menemukannya sementara mulutku sudah terlanjur menganga ingin menjawabnya.

“Mainlah ke kosanku. Aku punya koleksi buku yang mungkin diantaranya ada yang kau suka...” potongnya.

Mendapat ajakkan itu tentu saja membuatku berbinar. Bak pungguk merindukan bulan. Kegemaranku membaca buku yang tidak sejalan dengan pemasukan uang saku membuatku harus mengurungkan niat jika ingin membeli buku. Aku lebih sering meminjamnya di perpustakaan atau pergi ke toko buku hanya untuk menumpang baca disana. Tapi sekarang ada orang yang dengan baik hati mau meminjamkan buku-bukunya padaku. Betapa bahagianya aku.
***
Ruangan itu berukuran 2 x 2 meter persegi. Agak sempit namun tidak terasa menghimpit. Terdapat jendela mungil di samping pintu yang membuat cahaya mentari dan udara masih bisa masuk ke dalamnya. Begitu pintu di buka, pemandangan pertama yang terlihat adalah puluhan atau bahkan ratusan buku yang berserakan di lantai, di atas meja kecil, di atas lemari dan di rak buku mini. Agak berantakan memang, namun entah mengapa justru membuatku semakin girang.

“Wow...” itu kalimat pertama yang terucap dari mulutku begitu memasuki kamar kos itu.

Si kumbang hanya menyunggingkan senyum sambil mengacak-acak rambutnya yang berantakan. Setelah itu ia duduk di beranda luar dan kembali terjun ke dalam dunia bacaanya.

“Pilihlah buku yang kau suka. Tapi jangan berisik. Aku tidak suka di ganggu!”

Kuacungkan jempol ke udara. “Sip!”

Jemariku sibuk menyibak buku-buku yang menyebar di tiap sudut ruangan. Aku kegirangan. Mataku berbinar. Namun sebisa mungkin teriakan bahagia ini kutahan. Dan akhirnya kumenemukan sesuatu. Sebuah buku yang berjudul “Antara Kumbang, Madu dan Bilik Waktu” kini ada di tanganku. Tidak hanya sampulnya yang menarik, tapi juga nama pengarangnya yang langsung membuat mataku mendelik. Hamoezi. Orang yang sekarang sedang sibuk membaca dengan posisi tangan menopang dagu.

Kubuka sampul buku itu. Tertulis barisan kata-kata indah pada halaman pertama. Aku tertegun. Mataku seakan terpaku. Detik berikutnya aku telah tenggelam dalam alur cerita yang membawaku pada satu pemahaman baru.

... Madu semakin meragu

Ia sudah lama menunggu. Sebentar lagi bunga akan layu. Sia-sia ia menanti kalau akhirnya harus mati. Sementara sang Kumbang akan terus terbang meski ia semakin meranggas gersang. Ia hanya ingin dijemput dengan sekali seruput.

Sebelum Bilik Waktu menjemput selayaknya malaikat maut...

Cerita dalam buku ini tidak seringan fabel. Tak jua berat seperti filsafat. Namun ia berisi seperti kontemplasi yang dibungkus dengan alunan kata-kata menyerupai puisi. Dan itu membuatu mengerti tentang arti dari cerita ini. Bahwa Madu ibarat sebuah buku, Kumbang perlambang orang, sementara Bilik Waktu laksana otak yang dungu. Ketiganya saling berkaitan. Semuanya saling berdekatan. Dan ada pada realitas kehidupan nyata.

“Kupikir kau hanya suka membaca puisi, ternyata kau juga bisa menghasilkan karya yang berisi. Tulisanmu bagus.” komentarku.

Kulirik sekilas wajahnya. Tidak ada reaksi. Ia masih serius membaca.

“Itu bukan apa-apa. Masih banyak hal yang mesti aku gali untuk terus memperbaiki diri...” ujarnya kemudian dengan nada datar.

Perlahan aku berjalan ke arahnya kemudian duduk sisinya. “Hei! Nadamu terdengar pesimis sekali?” kutepuk pelan pundaknya, hanya untuk sejenak mengalihkan perhatiannya. Dan itu berhasil. Perlahan, ia menutup bukunya dan menatapku.

“Aku tidak pesimis. Tapi aku mencoba untuk berpikir realistis dan kritis. Dan terima kasih untuk pujiannya.”

Aku langsung terdiam. Dia membisu. Tak lama ia kembali hanyut dalam bukunya. Kesunyian perlahan merambat. Namun, tak berapa lama, akhirnya ada kata-kata yang terlontar dari mulutku,

“Kamu bukan Bung Karno. Kamu bukan pahlawan. Kamu juga bukan atlet. Tapi sadar atau enggak, kamu udah jadi guru yang membangun bangsa ini dengan buku dan ilmu. Suatu hal sederhana menurut sebagian kacamata orang, namun menjadi harta berharga bagi mereka yang dahaga akan bacaan...”

“Termasuk dirimu...”

“Dan sejuta lebih anak Indonesia yang terampas hak-nya.”

Ia tersenyum. Kemudian tertawa kecil. “Dasar penikmat Madu!”

Aku pun ikut tertawa. “Dasar kumbang hitam...”

Dan hari itu, aku banyak sekali belajar dari sang kumbang hitam. Sosok yang sederhana namun memiliki pemikiran luar biasa. Tak pernah sekalipun aku kecewa telah mengenal kawan sepertinnya. Dialah yang kemudian menginspirasiku untuk membangun sebuah rumah baca suatu hari nanti...
Untuk sahabatku :
Hamzah Mohamad Al-Gozi
Atas segala inspirasi yang kau berikan padaku
Bekasi, 12 Sepember 2011
06:40 WIB


[1] Cerita yang diilhami dari kisah nyata yang dialami penulis.
[2] Mahasiswa jurusan bahasa Perancis 2009

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karena Aku Sahabatmu



Oleh : Waspuhan Muriadi

Suara getar handphone membangunkanku dari tidur. Sedikit rasa enggan, kuraih dan kulihat siapa yang menelpon tengah malam begini. Ternyata itu dari kamu.

“Hai!” sapaku kaku.

Hening... tiada suaramu selama beberapa detik. Hanya hembusan nafas yang terdengar berat di telingaku.

“Kau bisa kemari? Aku membutuhkanmu saat ini...” diujung sana suaramu terdengar parau.

Kau tidak sedang mengigau, tapi kau sedang galau. Suara guruh membuatku seketika luruh. Tanpa diberi tahu, aku sudah membayangkan keadaanmu. Kau pasti sedang kesepian. Menghabiskan malam dengan penuh kegalauan.

“Kau dimana?”

“Di tempat biasa...” usai mengatakan itu kau menutup telpon-mu.

***

Kafe itu terletak di pinggir jalan, tak jauh dari perempatan. Di pojok sebelah kanan, terdapat bangku yang saling berhadapan. Dan disana kita saling menghabiskan malam di bawah lampu temaram. Kita sudah satu jam duduk termangu di tempat ini. Namun sepatah kata pun belum meluncur dari mulutmu. Kau membisu, tanpa kutahu mengapa kau begitu. Meski begitu aku tetap menunggu, hingga kau siap mengungapkan isi hatimu.

“Sudah beberapa minggu ini aku tidak bertemu dengan Alex...” ujarmu sambil mengaduk-aduk minuman di hadapanmu. Kau tampak lesu dan matamu kuyu.

Kepalamu tertunduk. Aku tahu kau berusaha menghidari tatapanku atau kau berusaha menahan bulir air mata yang sudah menggantung di pelupuk matamu. Aku tahu itu. Suaramu yang bergetar saat berucap tak mampu mendustaiku.

Aku menatap kaca jendela yang dihiasi guratan-guratan air bekas hujan. Di luar gerimis, dan di hadapanku kau akhirnya menangis. Pundakmu naik turun, sementara wajah manismu menjadi semakin murung.

Ini bukan yang pertama kau terluka karena dia. Dia terus menyakitimu, dan aku sakit karenanya. Namun kau enggan melepasnya. Hanya karena kau terlanjur cinta dan terlampau sayang padanya. Bahkan nasehatku tak mempan untuk membuatmu sadar, bahwa kau sudah terjerebab semakin dalam. Dan setiap kali ia menorehkan luka, hatiku pun ikut merana.

Sadarkah kau, ada aku disini yang mencintaimu?

Kau mengusap airmata dipipi dengan punggung tanganmu. Kau tersenyum pahit, terlihat sekali sangat dipaksakan. Kau berusaha tampak tegar, namun usahamu gagal. Maka kau menyeruput orange jus untuk membuat perhatianku luput.

“Kau ingin mengatakan sesuatu?” tanyamu tatkala melihatku tetap diam membisu.

Kutatap dalam matamu yang tak lagi berurai airmata. Aku menghembuskan nafas berat, lelah mengulang kata-kata ini. “Kapan kau akan sadar? Ia sekarang sudah memiliki seseorang...”

Kau kembali terdiam. Menutup telinga, namun kau tidak bisa mengingkari fakta. Hatimu tetap tahu apa yang terjadi dengannya.

“Aku bukannya tidak menyukainya. Aku hanya tidak suka dengan caramu mencintainya. Sudah kelewat batas. Mau sampai kapan kau menjadi benalu antara hubungan mereka?”

Kau membuang jauh pandanganmu. Matamu mulai berkaca-kaca lagi. Dan kalimatku semakin deras meluncur tanpa ampun.

“Rin... sudah cukup...

... lepaskan Ia dari hatimu...”

Sebutir airmata kembali jatuh dari sudut matamu, yang kemudian menganak sungai di pipi dan bermuara di dagu. Kau menangis dalam diam. Dan hatimu semakin remuk redam.

“Sulit... sangat sulit bagiku untuk melepasnya...” ucapmu lirih, nyaris berbisik.

Aku tahu.

“Aku mencintai bukan dari statusnya, bukan karena hartanya, juga bukan karena ada apa-apanya...

Aku mencintainya apa adanya dia...”

Aku juga tahu itu. Demikian juga rasa sayang ini padamu. Hanya saja kau tak tahu itu. Jika saja aku punya sedikit saja keberanian, aku sudah menyatakan perasaan terpendam ini padamu. Sayang, aku terlalu pengecut untuk sekedar mengucapkan “I love you” padamu.

Cinta memang buta. Kalau sudah begini aku bisa berbuat apa? Karena sejatinya posisi kita sama. Aku mencintaimu, dan kamu mencintainya. Kita sama-sama terjebak dalam cinta yang sama. Yang berbeda, kamu rela menjadi yang kedua, sementara aku hanya menjadi si sahabat yang tetap mencintaimu.

“Dia cinta pertamaku...”

“Aku tahu,” sahutku. “Kau hanya perlu merelakannya dan biarkan hati yang lain mengisi kekosongan itu seiring dengan berjalannya waktu.”

Kau tertawa sinis. Meringis. “Kau tahu, berapa banyak lelaki hidung belang yang mengincar tubuhku dan rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk tidur denganku? Dan tahukah kamu, betapa menyakitkannya itu buatku?”

“Apa bedanya dengan Alex? Bukankah ia salah satu dari lelaki hidung belang yang hanya ingin menikmati tubuhmu dalam semalam?” tanyaku sinis.

Kau terhenyak, terdiam sejenak. Tersengat oleh kata-kataku atau mungkin malu.

“Dia beda Nat...” bisikmu. “Kami melakukannya atas dasar cinta, bukan uang semata. Silahkan bilang aku naif, tapi buatku dia adalah orang yang tepat. Hanya waktunya saja yang kurang tepat.”

Kepalaku menggeleng pelan. “Kau... bodoh.” Tukasku. “Kau sudah dimanfaatkan olehnya, tapi kau tak sadar akan hal itu.”

“Cukup Nat, aku tidak ingin mendengarnya lagi. Aku minta kau kemari untuk menemaniku, bukan menceramahiku...”

“Aku mencintaimu...” tiba-tiba saja mulutku berujar itu. Spontan, tanpa persiapan. Waktu serasa berhenti bergulir, sementara duniaku serasa terjungkir.

“Apa?”

Ririn seperti tak percaya dengan kalimat yang barusan meluncur dari bibirku. Matanya menatapku nanar. Ada rasa tak percaya yang kutangkap dari bola matanya. Dan aku sudah terlanjur basah mengatakannya.

“Nat, kau bercanda ‘kan?” tanyanya.

Aku menggeleng lemah. Kutundukan kepalaku sebelum akhirnya aku berani beradu pandang dengannya. “Tidak. Aku tidak bercanda. Rasa ini sudah ada sejak lama. Namun baru sekarang aku mengungkapkannya. Itu pun karena terpaksa. Karena kau juga tak kunjung menyadarinya...”

Kenapa wajahmu tampak pias? Apa karena kata-kataku terlalu lugas?
Kau diam tanpa kata. Berusaha mencerna kata-kataku dalam benakmu. Kau pasti tidak menyangka. Aku pun jua tak mengira bisa melakukannya. Tapi kini aku merasa lega.

“Kau tak perlu mengatakan apa-apa bila kau tak siap. Aku tidak menuntut jawabmu. Aku juga tidak ingin menggungkung cintamu seperti sangkar. Kau selayaknya kupu-kupu. Terbanglah kemana kau suka dan hinggaplah bunga yang kau cinta. Kau bebas melakukannya.”

Hening...

“Atau bila kau masih merindukannya, kejarlah ia. Bila nanti kau terluka, ingatlah aku. Sahabatmu ini selalu ada untukmu. Kapan pun kau mau. Karena aku sahabatmu...”

...yang mencintaimu...


Untuk seseorang di luar sana,
Terimakasih sudah berhasil membuatku jatuh cinta...
Bekasi, 8 April 2012
09:06 WIB

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS