Mozaik mimpi di ruang G 305 Oleh : Waspuhan Muriadi Sudah lebih dari dua tahun aku menjalani serta mengalami pembelajaran luar biasa di ruang G305 yang bernama Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM). Teringat akan filosofi keramik atau keris yang harus menjalani serangkaian proses “menyakitkan” sebelum akhirnya mereka menjadi barang nan cantik lagi bernilai jual tinggi. Begitulah kiranya yang harus penulis dan semua LKM’ers jalani selama belajar disini. Seakan menekan tombol pemutar waktu, kenangan indah, pahit, manis, getir telah banyak masa terlewat hingga mengingatkan aku pada masa dimana aku mengenal LKM untuk yang pertama kalinya. Dua tahun yang lalu... Berbekal brosur dan keingintahuan yang mendalam tentang, “Apa itu LKM?” membawaku menuju gedung G lantai 3 no. 305. Asing. Begitu pikirku saat memasuki ruangan itu. Masih teringat jelas siapa orang yang pertama kali aku temui saat iu : Hamzah Ikhwal, yang dengan teliti dan sabar meladeni setiap pertanyaan yang terlontar dari bibirku perihal LKM dan segala isinya. “Apa tujuanmu dateng ke LKM?” tanyanya yang membuatku langsung tergagap. Kuputar keras otakku untuk menjawab pertanyaan yang –menurut sebagian orang terdengar sepele itu- singkat tapi sanggup membuat beberapa detikku lenyap dimakan waktu. Gamang. “Saya ingin belajar menulis cerpen, Kak,” jawabku akhirnya. Itu pun masih terdengar nada tak yakin dari suaraku. Aku memang suka membaca dan menulis cerpen, tapi entah kenapa aku merasa jawabanku terdengar konyol. Orang di depanku ini menelan ludah sambil berujar, “ Disini kamu bisa dapetin lebih dari sekedar menulis cerpen. Tapi LKM tidak bisa memberi jaminan kamu akan bisa menulis cerpen” Ada jeda beberapa detik, tampaknya ia tahu aku butuh waktu lama untuk mencerna kata-katanya. Melihatku terdiam ia pun melanjutkan, “LKM adalah wadah, media dan bakat atau minat kamu bisa ditempa disini.” Kepalaku mengangguk kecil sembari menerbitkan senyum kecil. Masih ada asa aku disini. Dan dengan membayar uang pendaftaran aku pun menguatkan tekat memasuki gerbang pembelajaran a la LKM. Membuat karya tulis ilmiah adalah pelajaran pertama yang aku dapat di LKM. Diteruskan dengan pembekalan menulis, berpikir kritis dengan diperkenalkan oleh tokoh-tokoh filosofi, dan materi public speaking. Bulan-bulan pertama terasa berat kawan. Tak kupungkiri aku hampir menyerah dan angkat kaki dari lembaga ini. Rutinitas yang seperti tiada henti ditambah waktu yang masih sulit kubagi antara kuliah dan kegiatan jurusan membuatku hampir terpelanting dari rengkuhan LKM. Beruntung aku memiliki banyak sahabat yang terus menguatkan aku untuk tetap bertahan disini, paling tidak hingg detik ini. Terima kasih BRAINER’s. Karena kalian kakiku masih berpijak disini. Namun entah sampai kapan aku sanggup berdiri tegak dan bertahan hingga titik puncak di tahun ketiga kita belajar di LKM. Mimpi itu masih ada kawan... Katakanlah aku bukanlah orang yang paling rajin terlihat di LKM, tapi entah kenapa ketika pintuk 305 itu kubuka yang terlihat adalah beberapa anak BRAINER ada segelintir anak PLATO. Entah apa yang terjadi hari-hari belakangan ini LKM terasa sepi. Ramadhan dan liburan bukan alasan untuk berproses di LKM kawan. Ketika masih ada sebagian besar anak PLATO yang enggan atau bahkan malu hadir di LKM, paling tidak hanya untuk beberapa menit meluangkan waktu mereka untuk menjenguk LKM, maka aku berpikir –tanpa bermaksud menyalahkan pihak tertentu- ada yang harus kita (BRAINER) renungkan untuk gimana caranya merangkul kembali adik kita PLATO dengan membangun tali emosional dan rasa memliki itu di hati aku, dia, mereka dan kita. Seperti yang kita lakukan, sharing bersama BRAINER’s untuk lebih mendekatkan satu dengan yang lainnya. Dan untuk PLATO, ada segumpal pertanyaan dikepalaku yang seperti peluru menunggu untuk ditembakkan, “Ada apa dengan kalian?”,“Adakah yang salah dengan kami –BRAINER- yang mungkin luput dan membuat kalian seolah enggan menginjakkan kaki untuk sekedar berebagi ilmu di lembaga penalaran ini?”. Maaf, mungkin terdengar bunyi sumbang penyalahan, namun bukan itu yang kumaksud. Aku mencari perenungan untuk dijadikan cermin. Semoga ke depan ada setapak jalan untuk kita –BRAINER dan juga PLATO- LKM’ers untuk berjalan bersama. Bukan digiring tapi beringinan, bukan dibebat tapi dijabat. Hingga akhirnya kita bisa mengunjukkan kepada generasi penerus LKM, bahwa kita organisasi yang tidak hanya hebat namun juga bersahabat. Semoga hari itu kan terwujud dan tidak hanya sekedar mozaik mimpi yang ada dianganku. Bekasi, 5 Agustus 2011 Pukul 02:45 WIB
Mereka Yang Masih Tersisa…
Oleh : Waspuhan Muriadi
Tahun 2009…
Tidak banyak jumlah kami saat itu. sekitar 50 orang atau lebih. Entahlah. Tidak penting. Yang terpenting adalah mengenang masa-masa indah itu bersama mereka. Kawan-kawanku yang masih tersisa. Angkatan 2009. Dan inilah wajah-wajah mereka, yang akan selalu aku kenang ketika nanti kami tak ada untuk sekedar bertegur sapa atau bercanda ria. Hari dimana kita mengenakan toga dan melihat untuk yang terakhir kalinya.
Genk C (Ceria)
Sebenernya sih lebih tepat di bilang stres atau sarap daripada dibilang ceria. Soalnya kalo udah ngumpul ama mereka bawaannya pengen ktawa mulu. Cukup staun w kenalan ma mereka, hingga w tahun luar dalemnya mereka seperti apa hahaha…
Melinda ato Menk. Leader genk-cer yang energik tapi sering galau. Diputusin “mokokurobo” galau, naek motor mantannya galau, liat poto pra-weding pujaannnya galau, liat muka w mirip Donghae galau (oke,oke yang terakhir ini emang pitnah). Tapi entah knp w merasa senasib ama Menk coz kita pny cerita cinta (galau) terpendam yang berujung “tragis”. Abis nonton crazy little thing called love, kita merasa jadi orang tergalau sedunia. W manggil dia “Nam”, dan dia manggil w “P’Shone”. Iya, emang kayak orang gila kalau di liat. Gila cinta…
Ajeng. Finalis abang-mpok Bekasi yang gagal masuk semi final ini, dulu paling anti yang namanya korea, tapi sekarang jadi makhluk kesetanan cowok korea. Mimpinya jadi seorang istri diplomat, alesan doi sih biar bisa kliling dunia gretongan sambil ngabisin duit suami (kurangajiarrrrr…). Jadi buat cowok-cowok ganteng di luar sana (ehm, termasuk w) ati2 kalo ktemu anak yang satu ini. :p
Oneng “Dada” Tista. Orangnya sangat tergambar dari namanya ; oneng. Dia itu oriental (original dan sintal) alias semok. Gak gendut sih, tapi cenderung seksi. Dan entah knp kl mbayangin oneng w slalu teringat dengan Dada Ayam. Iya Dada. W ulang biar lebih jelas : DADADADADADADADADADADA…… tp lo hot kok neng (oneng: maksud loe???). jaket lo maksud w :D
Sinta clean n clear. Wajahnya slalu ceria dan kecantikan wajahnya (aiiiihhh…) membuat cowok klepek2. Tapi itu semua pitnah sodara2. Sinta orangnya baik dan murah senyum. Gak heran kan dia masuk dalam finalis “Clean n Clear Contest”. Dan wajahnya yang spt mbak2 SPG ini yang membuat TUUUUttttt *sensor* (kita sebut saja ihkwan) lengket kayak blahan pantat ma sinta. Salut buat sinta. Sori ya Uli, Kim Bum lo direbut hahaha…
Erna irawati ato yang sering di sebut “miss angola”. Yang paling w inget adalah kata2nya : je m’appele Erna n Love you (baca selengkapanya di blog w : bocahkelayapan.blogspot.com dengan judul pohon non-reguler atau di note fb w dengan judul yang sama, dan kalian akan tahu kenapa hahaha…)
Peti (mati). Anyonghaseo. (Bener gak tuh tulisan?) ini nih tersangka utama yang membawa sekaligus mengedarkan virus korea dan menjangkiti seluruh umat di jurusan bhs prancis (termasuk w). bocahnya tinggi (hehe… tapi bo’ong), putih, mungil dan imut (ugh, jadi pengen nendang dia rasanya. *muka gemes*). Dan ini orang yang serta merta bilang w mirip salah satu artis korea (w lupa namanya sapa, Lee Mong Yong kl gk salah) yang berperan jadi koki di restoran gitu deh di O’chanel. Antara GR dan tak percaya w pun ngaca dan membuktikan kalau w tuh…. Emang beneran mirip hahahaha…. (ktawa setan).
Mariana marito. Ngakunya mirip Tifany SNSD tp w lebih suka manggil dia Nana Dalem. Bukan, bukan karena muka dia mirip kancut. Bukan, bukan itu. tp…tapi kenapa ya? Gak tw w juga hahaha… (ktawa goblok). Dulu nana kiblatnya ke Bollywood, sering nari2 India kalo di kelas, tp smenjak ada makhluk planton (baca: peti) itu dia jadi ikut2 suka korea. Hufff capek deh. Kebalikan dari w, nana justru gemes ama orang kurus. Alhasil dia sering nyubit2in lengen w yg tinggal kulit ama tulang itu sambil teriak2 “KYUHYUN…KYUHYUN…AAAAAAARGGGGGHHHH….” W cm bs pasrah -_-!
Iyuy dangdut. Seperti yang w ceritain d pohon non-reguler, entah knp kl liat Iyuy bawaannya keinget sama penyanyi dangdut pantura terus. “Hiyaaaaakkkk… digoyang mangggg….” Tubuhnya seksi dan sintal, beda2 tipis lah ama oneng, tp aduhaian iyuy (Puhaaaannnnn….!!!!. *oneng ngejar w sambil bawa pentungan*). Yang w suka dari iyuy adalah senyumnya yang ramah.
Tarahu-tarahu. Satu-satunya orang yang w anggap masih waras ya cm Tara kayaknya di genk ini hehehe… (Menk: GEBUKIN PUHAN RAME2!!!!!) walaupun masih agak pendiem, tp skrang Tara udah lebih ceria. Duh pengen deh Tara bisa kalem kayak loe,Tara -_-?
Destin. Sahabat terbaik yg pernah w pny yg skarang mau hengkang dari jurusan bhs.prancis. Sedih rasanya kelas tanpa dia, gak ada yg w cubitin lagi (soalnya dia gendut), gak ada yag perutnya w tonjok2in lagi (hehe…tp gak ampe kena kok, kan udah membal duluan kayak karet hehe… pish des). Tapi sumpah des, kita bakalan kangen ama loe dan gak akan lupa dengan semua kbaikan loe. Slamat tinggal kawan. Akan selalu tempatmu disini. Di hatiku…
Genk Babik.
Entah kenapa dinamainnya genk Babik? Perasaan muka mereka gak ada yang mirip ma babi deh (sori ya pingkan gak maksud bawa-bawa nama elu hehehe…). Dan inilah mereka…
Abi. Orangnya paling ganteng di genk ini (yaiyalah kan semua personilnya cewek semua. LOL). Pinternya gak ketulungan (nglirik Abi dengan tampang sirik). Agak perfeksionis orangnya. Gak mau stengah2 kl ngerjain sesuatu (ngomong “sesuatu”nya kayak Syahrini). Gak bs blajar di tengah kegaduhan. Kadang gak sabaran dan sering emosian (kyk w). dan dia juga dewasa (atau tua?). tp yang w suka dari dia adalah sikap positifnya dia yang menular tanpa w sadar. PS : Ingat tulisan ini bik, saat loe udah meraih sukses nanti. Mungkin cm ini yg bisa w kasih.
Anggi/Pum. Salah satu orang yg di berkahi dengan talenta yg luar biasa : cantik, body seksi, bisa nyanyi, menguasai bahasa, pinter dance, dan segudang talenta laen yg mungkin msh ada dalam diri seorang Anggita. Sering jingkrak-jingkrakan di kelas (yg setelah beberapa lama w baru nyadar itu adalah gerakan nari SNSD. LOL), nyanyi2 lagu jadul di kelas bareng w (demem w itu sih haha…). Dan yang paling w inget, dia adlh salah satu orang yg membuat w bangga mengenakan jaket almamater UNJ saat Pum nyanyi di UI pas francophoni. Suara emasnya bikin merinding. W gak akan lupa hari itu Pum.
Luh Shinta. Cuma satu kata : CANTIK. Dia adalah gadis Bali tercantik yg pernah w temuin (soalnya baru dia yang w kenal hahaha…)senyumnya mengingatkan w dengan sosok Emma Watson (plis Luh, cm senyumnya aja, sungguh. Gak lebih). Terus tersenyum Luh… (sambil pake kacamata)…karena senyummu mengalihkan duniaku… (terdengar suara muntahan).
Kania. Nah ini dia nih miss rempong yang gengges dan grusa-grusu tapi bikin seru. Orangnya moody-an. Kadang sangat ceria, tapi kadang sangat galau sampe pernah curhat ke w ampe nangis2. Tp entah knp w seneng. W suka dg sikapnya dia yg agak kekanak-kanakan tapi rempong nak ujubileh. Tp suka kesel kl dia udah BT. Tp abis itu udah, selesai, kita ktawa2 bareng lagi. Aneh. W gtw dia masih terobsesi untuk cantik dan kurus lagi atau enggak, (tapi makan banyak terus) Hmmm… kania dagingnya sumbangin ke w aja.
Dwi Aulia. Gadis cantik, imut dan fashionable yang mengingatkan w sama personil Cherrybelle (Dwi : tiiiidddaaaaakkkkk…). Calon mantu pejabat ini pernah menjalin kasih dengan sesama personil genk babik (tw lah siapa! *matanya ngedip ke –sensor-*) namun hubungan itu kandas di tengah jalan (oooo…. suara penonton kecewa). Ada kejadian lucu yang msh membekas saat di ruang 209 (baca pohon non-reguler) haha… sabar ya duw… btw, dia skarang jadi bandar vidio korea kelas kakap ngalahin si peti (mati). Duw, downloadin vidio SNSD yg byk dunk, tar w minta haha…
Adisty. Entah knp w slalu inget Lady Gaga kl liat mukanya. Unik. Dan yang paling w iri adalah kemampuan bhs inggrisnya yg fasih padahal blajar otodidak. Sementara w???? tapi senengnya dia mau ngajarin dan ngoreksi bhs inggris kita. Rajin dateng telat kalo ada kuliah. Lho??? Adisty, you are the best girl (apa siiiiihhhh???? http///makin-gak-jelas.com)
Genk SNSD
Duuuuuhhhh….sumpah w sebenernya gak rela nyebut mereka SNSD, tapi mau gmn lagi dunk??? Padahal para personilnya, yg rata2 berisi semua (baca ; ndutz), sangat jauh dari bayangan w ttg SNSD. Tapi ya udinlah ya, mari kita kenalan dengan mereka dan siap2 muntah hahaha…
Uli. Ngaku2nya sih miri Sunny SNSD, tp dari pipinya yg selebar bandara Halim aja udah jauh beda. Apa lagi betisnya yg kayak singkong, wuuuuaaaaahhhh….gak gak gak kuat, aku gak kuat bayanginya…gak gak gak rela… aku gak rela kalo elo ngaku2 Sunny. Tp w suka sikap lo yg ceria dan murah senyum Li. Soalnya makin lebar aja pipi lo hahaha… (Uli : Puhhaaaaaaannnn…!!!! *lari sambil bawa golok*)
Pingkan. Bukan, ini bukan Pingkan mambo. Tapi pindutz (pake Z biar seru) ato w lebih suka manggil dia ager2 lantaran perutnya dia yg geter2 mirip ager kalo lagi jalan. Pipinya tembem, body montok kyk beruang dan pny 4 paha (sebenernya yg dua lengen, tp melihat ukurannya yg big size, w curiga kalo itu adalah paha) membuat w suka bgt brada di dekat radiusnya krn sosoknya yg menyenangkan dan hangat (yaiyalah anget, empuk lagi). Seneng w ngledekin dia, sambil nyubit2in pipi n paha (baca : lengan)nya dia, dan nyentil2 perutnya yg menggemaskan dg cukup brutal. Wuuuuaaahhhh…mendadak w kangen ma lo, Pink.
Mae-hara. Kembarannya Manohara, tapi kalo diliahat dari bodynya pas dia baru pulang dari malaysia dengan disayat-sayat. Gara-gara kseringan gaul ama Uli n Pindutz, jadinya dia ktularan nduts juga deh. Perutnya skarang mulai agak2 nyolot maju ke depan gitu, dan merangsang w untuk ngatain dia dan serasa pgn nonjok2in perutnya kyk bantalan tinju Dugh…Dugh…Dugh… tp kl udah w ledek, w langsung dianiaya ama Mae. Cukup parah hingga w harus r rawat di RS haha…lebay.
Bocil. Sesuai namanya; bocah kecil. Lebih kecil dari peti (seneng kan lo pet? Haha…) Kecil-kecil cabe rawit. Energik dan penuh semangat. Meski terkadang gak seiya sekata dan sering terjadi miss-komunikasi ma dia, tp sebenernya dia cukup enak untuk diajak berteman. Dan entah knp w jadi inget kisah Icha tiap kali w inget kejadian di BEM (baca pohon non-reguler). Smoga hubungan kita ke depannya bisa lebih baik lagi sampai hilang sakit hati atau pun dengki. Stop saling membenci dan memaki! Kini saatnya mencitai, dimulai dari sikap saling mengerti dan toletaransi.
Ijos. W manggil dia Kak Ros (seolah-olah w Upin-Ipin yang kembar dua tapi dalam satu tubuh. Bingung? Sama) orangnya dewasa dan enak diajak berkerjasama. Tanggung jawab dan nggak segen bertanya kalo gak tau. Ramah. Alim. Hhmmmm… w blm nemuin sesuatu yg cacat dari diri seorang Ijos yg bisa w ungkap. Dan sejauh ini w asyik2 aja berteman dengan Ijos. Good girl’s generation. (teuteup ya bawa2 SNSD. Gee…gee.. gee..)
Fajar. Entah dosa apa w sampe harus sekelas (lagi) ama fajar hahaha… orangnya ramah, walau terkadang sikapnya dia gajebo (kyk w) dan sring bikin orang bingung. Yg unik dr dia adalah gigi-nya hahaha… lucu. Dan sekarang dia tambah cantik dengan rambut rebonding barunya. Terlihat Fajar tengah mengibaskan rambutnya seraya berkata : Aaaaahhhh Cuma pake shampo kok *iklan pentin*. Huuuuwwwweeeekkk…!!!
Nia. Temen satu gedung G ma w. Dia di sikma TV. Jujur pas pertama kali kenal, w pikir ni cewek mukanya sengak banget, eh tapi begitu kenal orangnnya baik, ramah dan yang w suka kalo ketemu di suatu tempat dia selalu nyapa duluan (heran, tau aja radar w dmn aja, pasti ktemu dia. Dan dia slalu teriak : Puhaaaannn… sambil nyengir kuda). PS : Nia, kalo ada proyek bikin film dokumenter, dan ehm, kurang aktor, ehm, dan loe butuh orang, ehm, lo bisa kok, ehm, calling, ehm, menager w hehe… tenang Nia, tarif w, tarif Mahasiswa. Nego aja ama menager w hehe…
Citra. Bukan, ini bukan citra yang nyanyi “every body knew….” Ini citra temen w yg mukanya mirip india tapi jiwanya sangat Korea (Lagi). Paling demen sama kembaran w (kyuhyun) di Suju dan sering mirip2in w ma dia. Padahal kan w ogah bgt gitu disamain ma dia (bo’ong bgt haha…) Citra orangnya ceria dan demen ktawa dan ktawanya renyah bgt (krupuk?)
Ratih. Nah kalo ini sih mukanya India abis,.. tapi kasusnya sama kayak yang laen : Penggila Korea. Hufff… sifatnya kalem, misterius, tp nikin penasaran. Tatapan matanya tajem, setajam silid. Kalo liat w pasti langsung senyum-senyum (w curiga dia suka ma w). kalo udah gitu w cm bisa diem dg tampang sok cool dpn dia hahaha…
Inge. Nenek (keriput) yang ngaku2 mirip Tifani SNSD (emang mirip sih, tp rambutnya doank Nge hahaha…). Masalah Body, sama lah 11-12 sama Uli n Mae haha… Goundutszzz… Sama kayak Pum, dy demem bgt sama Korea n SNSD sampe2 dia apal gerakannya dan mraktekin di dalem kelas. Duh malu2in aja (mae: halah, kayak lo gak aja!).
Jojo. Kembarannya Inge yang slalu nempel berdua kayak… (Inge : kalo bilang kayak belahan pantat lagi w tiban lo Puhan!).. yah gitu deh! Jojo adalah sabahat w yg juga aktif d gd G dan juga salah satu penyanyi bertalenta yang jurusan bhs. Prancis punya. Mahkluk kayak gini patut di lestarikan dan di kembang biakkan. Yang w suka dari Jojo (bahkan kadang membuat w kaget) adalah sikapnya dia yang cerita blak2an yang kadang terdengar tabu bagi cewek laen untuk cerita, tapi bagi dia itu lumrah alias biasa. Dan w stuju itu (langsung ngelirik ke oneng).
Geng 57
Dedew. Orang sarap yang suka ktawa ngakak sambil doyong2 sambil mukulin badan w. Bendahara umum yg miskin pulsa sampe2 bikin w greregetan oh aku geregetan (sambil nyanyi2 Sherina) kl sms dy coz gk pernah di bls. Sahabat curhat w kalo w lagi kesel, tapi yg ada w tambah kesel setelah cerita ke dia (yaiyalah, abis w cerita dia malah ketawa2, doyong2 dan kembali mukul2 w dg sangat brutal). Sering w panggil close-up gara suka majuin mukanya kalo lg ngobrol ama w. kl w gak kuat iman, mungkin w juga akan memajukan muka w dan kita pun…. (w tak sanggup meneruskannya)
Cocom. Teman stres Dedew yang urat sarapnya udah putus dan gk tw malu. Satu paket ama dedew kalo udah ngecengin w (makasih y guys -_-). Kalo ktawa ngeselin coz muncul bunyi2 “ngok ngok ngok” dari idungnya yg mirip babi (suaranya maksud w, bukan idung lo yg mirip babi hahaha…). Kl lg sedih, bad mood, stres, Cocom adalah temen yg cocok bagi w nglupain smua masalah itu.
Inti. Gak pake huruf belakang M coz tar jadinya INTIM. Kan gak enak kalo w manggil dia INTIM, kita berteman INTIM atao berhubungan INTIM, hihhhh…gelai mbayanginnya hahaha,…w paling sering manggil dia BULED. Pake D biar mantab. Pipinya itu lho, montok kayak Tahu Buled yg dijual abang2 di pasaran. Rasanya pgn w kunyah trus abis itu w lepehin hehe… dari genk 57 di atas, Inti termasuk yg masih tergolong waras meski terkadang ikut2 nyerang w kalo udah bergabung dengan Dedew n Cocom. Tp dia paling dewasa diantara mereka. paling enak dijadiin tempat curhat dan dimintain nasehat.
Uci. Kalo di jalan lo ketemu ama cewe yg bawa tas, map, buku2 di tangan kanan, laptop di tangan kiri, napas bengek, muka panik, orang itu namanya Uci. Sekrestaris BEM yang sibuk dan ribet bawa2 barang kemana2. Tp itulah totalitas kerja dari seorang Uci. Bertanggungjawab, jarang mengeluh tapi kerjaan beres. Byk plajaran hidup yg bisa w petik dari seorang Uci. Pernah suatu hr dia bilang gini ke w : ”W gk bisa berhenti sebelum tugas itu kelar Puh”. Padahal saat itu muka n badan dia udah kliatan capek bgt, dan w nyuruh dia istirahat. Sejak saat itu, w makin kagum dengan cewek tangguh ini.
Dian. Sang hipnotis, magician dari bhs Prancis yang hanya ada warna Hitam dalam hidupnya. Manusia tersantai yg pernah w temui. Hampir gak pernah w liat dia panik, yg ada dia yang bikin w panik kalo w di hipnotis. (mendadak lagunya Indah Dedew Pertiwi mengalun) kamu…kamu hipnotis aku… (Sinta : mau dunk hipnotis hatiku… *sambil gandeng mesra lengan Dian* jadi inget foto mereka di twitter)
Viary. Mantan pendiri F1 (nama geng w, abi, viary, dian, n tiar pas waktu kita masih remaja ababil 17 thn, maba thn 2009) yang di juluki raja ngaret saking seringnya dia telat kalo ada janjian. Manusia tersantai kedua setelah Dian. Motonya “Selow aja…” sambil cengar-cengir padahal yang laen gregetan. Tapi secara pribadi, Viary adalah orang yg setia kawan dan rupawan (ya Tuhaaaaannnn…w pitnah lagi kan. Dosa w numpuk dah ni)
Jumlah kita emang dikit. Tapi w berharap yg sedikit ini yang mampu bertahan hingga titik darah penghabisan sampai lulus nanti. W mau, saat wisuda nanti, kanan kiri w adalah mereka –mereka yang sekarang tengah berjuang dengan caranya masing-masing untuk bisa berhasil. Tulisan ini hanya merupakan sepenggal kisah yang mungkin kalian kenang atau abaikan jika suatu hari nanti kita telah hidup masing-masing. Semoga tulisan ini berarti. Itu saja cukup.
Love at the white house
Prolog
White House. Itulah nama rumah itu. Sesuai namanya, rumah itu memang lebih banyak di dominasi oleh warna putih di hampir semua sisinya. Bukan hanya bentuk bangunannya yang bercitarasa seni tinggi, tetapi juga letak rumah itu yang membuatnya sangat unik dan menarik.
Terletak di tengah danau, White House berdiri elok di atas permukaan air yang warnanya agak kehijauan. Terdapat jembatan kayu yang membentang dari tepian danau menuju White House. Dan yang membuat para penghuni rumah itu merasa betah dan nyaman adalah pemandangan alam sekitar yang sangat luar biasa menakjubkan. Dikelilingi oleh perbukitan yang diselimuti oleh perkebunan teh serta jajaran pohon pinus dan cemara yang tumbuh subur di tepian danau.
Kabut selalu setia menyambut penghuninya disaat subuh dan senja hari. Namun pada pukul 6.30 –disaat cuaca sedang cerah tentunya- ,sulur cahaya mentari tengah merekah. Dikala itu burung-burung mulai keluar dari sangkar lalu secara berbondong-bondong melayang diatas danau guna mencari ikan-ikan favorit mereka sambil sesekali berkicau riang, dan yang lebih menarik adalah kita bisa melihat para pemetik daun teh tengah melakukan aktivitasnya di perkebunan teh yang terhampar luas sejauh mata memandang. Dari situ kita bisa menebak mengapa air danau nampak kehijauan.
Ditemani oleh secangkir teh hangat, para penghuninya sering melewatkan saat terbaik ini di teras belakang rumah sambil menikmati pemandangan indah yang tersaji di hadapan mereka.
Rumah itu ternyata juga mempunyai sejarah yang menarik. White House awalnya dibangun sebagai tanda cinta dan kasih dari seorang lelaki kepada gadis pujaannya. Tak ubahnya seperti Taj Mahal yang di bangun oleh sultan Sjah Jahan untuk mendiang istrinya, Arjumand Bano Begum. Bangunannya sendiri memang tidak semegah Taj Mahal, namun rasa cinta dan sayang sang sultan kepada istrinya telah menginspirasi lelaki itu untuk membuat sebuah bangunan –meski tak serupa, tapi paling tidak mempunyai makna yang sama- yang menyimbolkan sebuah cinta suci yang ia wujudkan dalam bentuk rumah bernuansa putih, yang ia namakan dengan nama “White House”.
White House tidak hanya mempunyai sejuta pesona diluarnya, tetapi juga di dalamnya menyimpan sebagian kecil cerita cinta yang menarik. White House adalah saksi bisu, dimana cinta, kasih sayang, penghianatan, kebencian dan pengorbanan pernah terjadi di dalamnya.
Walau kini sebagian bangunannya sudah mulai rapuh karena telah dimakan usia. Meski tiang pondasinya mulai lapuk dan air danau siap menelannya kapan saja, namun White House masih ingin bertahan untuk tetap berdiri dengan tegar ditempatnya.
Yang ia inginkan hanya satu,
Ia ingin terus menjaga rasa cinta itu di dalam raganya…
(bersambung....)
Bidadari bernama Lusi
4 Februari 2007
Pagi ini hujan turun dengan lebatnya, membasuh bumi yang kering kelontang tak tersentuh air. Sepertinya awan mendung cukup untuk menggambarkan kesedihanku saat ini. Yah….setiap hujan turun aku selalu ingat sama dia. Seolah butiran-butiran air hujan itu adalah sebuah memori yang akan selalu mengingatkan aku dengan sosoknya. Kenangan 2 tahun silam, sepertinya tidak akan pernah sirna dari lubuk hatiku. Bahkan, selamanya akan aku kenang di sepanjang sisa hidupku.
Aku duduk diberanda rumahku, dibawah kucuran air hujan, sambil memandang foto dirinya. Paras cantik itu selamanya akan aku bingkai di hatiku. Kalau saja dia jadi milikku, pasti aku sedang duduk bermesraan dengannya. Tapi itu tidak mungkin, karena itu hanya mimpiku saja. Aku memejamkan mata, pikiranku sibuk menerawang masa-masa indahku bersama dirinya, seolah aku baru saja menekan tombol mesin lorong waktu.
4 Juli 2005
Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Tidak terasa sekarang aku sudah kelas tiga dan sebentar lagi lulus. Perasaan baru kemarin aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Waktu terasa bergulir begitu cepat.
Tidak ada sesuatu yang special di kelas ini. Semuanya biasa-biasa aja. Anak-anak di kelas ini rata-rata sudah aku kenal semua. Tapi ada seorang gadis yang cukup membuat mataku tak berkedip selama beberapa saat. Paras gadis itu sangat cantik. Apalagi saat ia tersenyum, dua lesung pipi langsung terlihat dipipinya, membuat ia makin terlihat manis.
1 Agustus 2005
Sebulan belakangan ini kerjaanku hanya memandang wajah gadis itu dari kejauhan. Maklum tempat duduk kami memang agak berjauhan. Aku tidak terlalu dekat dengan dia. Ia tipe cewek yang agak pendiam, yang menyulitkan aku untuk mengenal dia secara keseluruhan dan mendalam. Tapi aku tahu nama gadis itu, Lusiana namanya. Aku tahu dari teman cewekku yang doyan banget gosip. Dari dia juga aku tahu banyak tentang Lusi.
19 September 2005
Hari ini Pak Saar, wali kelasku, membagikan hasil ulangan harian. Sebagian murid dikelas ini langsung heboh dan sangat hiperbolis saat melihat hasil ulangan mereka.
Suara tepuk tangan riuh rendah bergema didalam kelas saat Pak Saar membacakan nilai tertinggi yang diraih anak didiknya. Dan yang menyabet prestasi itu adalah Lusiana, yang lagi-lagi membuat aku makin kagum akan dirinya. Selama 3 bulan ini aku baru menyadari kalau dia itu ternyata sangat pintar.
31 Oktober 2005
Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, tapi guru yang akan mengajar di kelasku belum juga datang. Seperti biasa, kelas yang tidak ada gurunya selalu gaduh. Banyak gulungan kertas yang berserakan di lantai. Suasana makin tambah berisik dengan suara anak-anak cowok yang nyanyi-nyanyi nggak jelas diiringi dengan petikan dawai gitar yang nadanya nggak pas blas. Belum lagi suara anak-anak cewek yang tertawa terbahak-bahak yang membuat kupingku terasa ingin pecah. Yang nggak kalahnya lagi, aksi kejar-kejaran sepasang cowok-cewek yang tengah dimabuk
Ditengah suasana bising seperti ini, Lusi terlihat duduk anteng di mejanya. Dari raut wajahnya, ia sama sekali tidak terpengaruh dengan suasana ini. Matanya terus tertuju ke buku yang ia baca. Tadinya aku berniat mengajak ia ngobrol, tapi niat itu aku urungkan karena aku tidak mau mengganggu keseriusannya.
Posisiku seperti sapi ompong yang berada di dalam kandang, memandang kesegaran rumput liar tapi tak bisa memakannya.
23 November 2005
Akhirnya aku bisa juga berkenalan langsung dengannya. Walaupun awalnya agak sedikit kaku, tapi seiring berjalannya waktu, kami berdua bisa saling akrab. Tidak seperti dugaanku sebelumnya. Ternyata Lusi tidak pendiam-pendiam amat. Dia hanya tidak suka keramaian. Di acara obrolan kami itu tidak ada topik khusus yang kami bahas. Semua mengalir begitu saja. Terkadang ia juga tertawa kecil mendengar candaanku. Lusi tidak pernah tertawa terbahak-bahak seperti cewek barbar dikelasku. Ia lebih suka tersenyum dengan bibir tipisnya itu.
24 Desember 2005
Suasana sekolah hari ini terlihat sangat ramai, dengan kedatangan para orangtua yang ingin mengambil raport anaknya. Dan seperti biasa, aku memang tidak terlalu antusias untuk mengetahui hasil nilai raportku berapa. Paling juga pas-pasan. Aku menyadari betul kalo otakku ini tidak pintar-pintar amat. Rangking 3 itu adalah prestasi terbaik yang pernah aku raih selama bersekolah. Itu pun rangking 3 ke 6. Sediiih.
Tidak sulit untuk menebak siapa rangking satunya. Seperti yang sudah aku prediksikan. Lusi orangnya. Ia tampak begitu sumringah saat melihat nilai raportnya. Hebat! Nilainya rata-rata diatas delapan. Mungkin buatku itu udah yang paling bagus.
Tanpa disuruh aku langsung mendekatinya dan memberinya selamat atas prestasi yang sudah ia raih. Rasa kagumku semakin lama semakin besar kepada dirinya.
Tapi kalau untuk menyatakan cinta kepadanya, saat ini hatiku belum cukup berani. Aku tak ingin terburu-buru, karena aku takut kalau yang aku dapat nanti tidak seperti yang aku harapkan.
7 Januari 2006
Hari ini adalah hari yang istimewa buat Lusi. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dan begitu ia sampai di ambang pintu kelasku, aku langsung memberinya selamat. Sepertinya ia lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri, karena saat aku memberinya ucapan ‘selamat ulang tahun’ ia terlihat begitu terkejut sekaligus senang. Senyum manis itu langsung terukir di bibirnya.
Lagi-lagi hatiku seperti es yang mencair melihat senyuman itu.
Setelah itu aku memberinya kado, yang berisi sebuah novel. Aku memberinya novel karena aku tahu betul kalo dia gemar sekali membaca. Novel “Harry Potter” karya J.K Rowling adalah novel kesayangannya. Dari dia juga aku jadi suka membaca, dan tentu saja aku jadi ketularan suka Harry Potter hehehe…
Ia menerima kado dariku dengan sedikit ragu-ragu. Aku tahu Lusi merasa tidak enak menerimanya. Tapi setelah aku desak, akhirnya ia mau juga menerimanya.
14 Februari 2006
Hari ini pabrik coklat kebanjiran rejeki. Bagaimana tidak? Batang-batang coklat yang biasanya selalu tergeletak manis di toko-toko, mendadak hilang diborong para muda-mudi yang ingin merayakan hari Valentine bersama pasangan mereka masing-masing.
Tidak terkecuali aku.
Tapi beruntung, hari ini aku tidak perlu repot-repot untuk mencari cokklat di toko-toko atau supermarket. Aku cukup membeli sepotong keju untuk aku berikan kepada Lusi. Ya, dia memang lebih suka keju daripada coklat. Memang terdengar sedikit aneh, tapi itulah Lusi. Dia pribadi yang unik. Berbeda dengan remaja putri yang aku kenal kebanyakan.
Lagi-lagi ia selalu ragu jika menerima sesuatu dariku. Seolah kado dariku ini adalah sebuah bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. Tapi lagi-lagi aku meyakinkan dia untuk menerimanya. Dan dia menerimanya walau dengan tidak enak hati.
Saat jam istirahat, salah seorang temanku, Dita, memberikan aku sebungkus makanan yang semuanya terbuat dari coklat. Waktu aku bilang terima kasih, ia justru bilang,
“Jangan terima kasih kepadaku, tapi sama Lusi. Itu semua dari dia. Dia tidak enak hati kalau kamu memberikan sesuatu kepadanya, tapi dia tidak memberikan sesuatu juga kepadamu…”
Aku tahu Dita belum selesai bicara, jadi kuputuskan untuk menunggu kalimat berikutnya yang sebentar lagi akan meluncur dari mulutnya. Setelah menarik-ulur napasnya beberapa kali, ditambah raut wajah bimbang, ia berkata,
“Tapi ia risih Ed, kamu giniin terus”
Jujur aku tidak paham dengankata-katanya. Namun, belum sempat kalimat tanya terurai dari bibirku, Dita sudah lebih dulu menjelaskannya,
“Lusi tahu perasaan kamu. Dan yang membuat dia risih adalah… sikap kamu terhadapnya yang begitu baik. Dia takut tidak bisa membalas apa yang sudah kamu kasih ke dia”
Sebelum aku melontarkan kata-kata, Dita sudah balik badan dan berjalan menjauhiku.
Detik berikutnya kulalui dengan terdiam. Kubiarkan waktu bergulir tanpa arti di sampingku. Wajahku seperti tertampar.
21 Februari 2006
Salah satu temanku mengatakan kalau Lusi suka cowok yang rambutnya model spike. Dia menyarankan aku untuk merubah model rambutku supaya Lusi tertarik padaku. Tapi serta merta aku menolak usul itu. Aku tidak mau di bilang caper sama Lusi. “Aku tidak mau merubah apa pun dari diriku. Aku lebih nyaman seperti ini, apa adanya. Meski aku operasi wajah sekalipun, kalau Lusi tidak suka, ya tetap aja nggak suka! Aku ingin dia mencintaiku dengan apa adanya aku…”
28 Maret 2006
Setelah proses PDKT yang cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk ‘menembaknya’ hari ini. Aku tidak peduli dengan jawaban yang akan ia utarakan nanti. Yang penting saat ini aku harus berani dulu menyatakan isi hatiku sebelum ada orang lain yang merebut hatinya dariku. Jika jawabannya ‘ya’ maka ini akan jadi kado terindah sepanjang hidupku.
Kutulis
pulang sekolah jangan pulang dulu. Aku tunggu kamu didepan kelas.
Waktu bergulir bak seabad lamanya, menanti jawaban yang terus menghantuiku beberapa bulan belakangan ini. Dan akhirnya, detik-detik yang menegangkan itu pun tiba…
“Aku juga sanyang sama kamu, Ed…” ucap Lusi dengan wajah yang tertunduk, bukan karena malu, tapi karena ada hal lain yang membuatnya tak berani menatapku.
“Tapi sebagai sahabat tentu saja” ucapnya lembut.
Kalimat barusan seperti anak panah yang menghujam sayapku, menjatuhkanku dari ketinggian 1000 meter, terjerebab dalam jurang yang penuh bebatuan, dan menggoreskan luka yang teramat sakit.
“Sungguh, aku minta maaf…Ed, Aku belum siap untuk menjalani sebuah hubungan untuk saat ini.. Dan aku lebih suka kalau kita menjadi sahabat daripada berpacaran. Karena sahabat lebih abadi ketimbang pacar. Sekali lagi aku minta maaf!!.”
Itulah jawaban Lusi setelah aku mengungkapkan isi hatiku kepadanya. Bisa dibayangkan betapa malu dan sakitnya hatiku saat itu. Tapi aku tetap konsisten dengan janjiku diawal. Apapun jawabannya harus aku terima, sepahit apapun itu.
Cinta memang tak harus memiliki, melainkan membiarkan orang yang kita cintai bahagia walau tidak dengan kita. kadang itu menyakitkan, tapi itulah harga yang harus di bayar untuk sebuah cinta. Begitu petuah yang sering aku dengar.
29 Maret 2006
Hari ini tepat ulang tahunku. Belum ada seorang pun yang memberiku ucapan ‘selamat ulang tahun!’ hari ini. Bahkan orang yang sangat aku harapkan untuk sekedar memberi ucapan “Happy B’day” saja, tidak mengucapkan itu. Bahkan memandangku saja tidak. Setelah insiden ‘penembakan’ itu, kami memang sedikit menjauh.
Tiba-tiba Umi dan Ayu datang ke kelasku dan memberiku kue blackforest berukuran sedang. Mereka berdua adalah sahabatku. Dulu mereka suka denganku, tapi setelah tahu aku suka dengan Lusi mereka lebih memilih untuk bersahabatan denganku.
Bisa ditebak bagaimana perasaanku, senang sekali pastinya. Ternyata masih ada juga orang yang ingat hari ulang tahunku. Begitu melihat kue nan lezat itu, teman-teman sekelasku langsung memberi selamat kepadaku. Tentu saja dengan harapan mereka kebagian kue itu. Dan kebahagianku memuncak saat Lusi memberi ucapan selamat padaku. Tidak hanya itu, ia juga memberikan senyum indah itu lagi. Hanya untukku.
Acara pemotongan kue dimulai. Tadinya aku ingin memberi potongan kue pertama kepadanya, namun keinginan itu aku urungkan. Aku tak ingin membuat ia merasa risih lagi dengan pemberianku. Jadi aku memberikan potongan pertama itu untuk diriku sendiri. Tapi mendadak aku menyesal tidak memberi potongan pertama itu kepada dirinya…..
17 April 2006
Menjelang UN aku dan Lusi mulai jarang berkomunikasi. Ia lebih memilih untuk serius belajar daripada melakukan hal-hal lain yang dirasa kurang penting. Ditambah pr-pr yang makin bejibun yang membuat aku tak ada waktu untuk sekedar memikirkan dirinya. Soal-soal itu agaknya sudah menyita waktuku.
22 Mei 2006
Ujian Nasional dimulai. Wajah-wajah tegang terlihat dari semua murid, tak terkecuali aku. Suasana kelas yang biasanya gaduh berubah menjadi hening, menandakan keseriusan kami dalam mengerjakan soal-soal. 3 hari ini yang akan menentukan nasib, lulus tidaknya dari sekolah ini. Jauh dalam hatiku, aku berharap agar aku masuk dalam jajaran orang yang lulus itu. Semoga.
15 Juni 2006
Setelah 3 hari berturut-turut kami didera dengan soal-soal yang ampun susahnya, hari ini kami bisa bernapas lega sekaligus menyegarkan otak dengan bertamasya ke Anyer. Dipantai inilah acara perpisahan diadakan.
Ditengah keramaian dan gelak tawa teman-temanku, aku memutuskan untuk berjalan-jalan menulusuri bibir pantai di temani desiran angin laut yang tak henti-hentinya menerpaku. Kemudian aku duduk sendirian diatas pasir putih, membiarkan kakiku dijilati lidah ombak sambil memandang jauh kedepan. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya birunya langit dan air laut yang saling beradu. Terpaan angin laut agaknya membuat wajahku berpaling kebelakang.
Dari kejauhan aku melihatnya. Ia sedang duduk santai sambil memandang birunya air laut. Sama sepertiku, ia juga sendirian. Ia terlihat begitu kesepian. Dari wajahnya ia seperti sedang mendabakan seseorang. Ingin rasanya aku menghampirinya, menemaninya, dan berusaha menghilangkan kesunyian itu dari lubuk hatinya. Tapi lagi-lagi itu tak kulakukan. Yang bisa kulakukan hanyalah memotretnya secara diam-diam dengan kamera digitalku. Aku igin mengabadikan ia dalam hidupku. Dan foto ini akan aku simpan. Selamanya…
26 Juni 2006
Hari ini pengumuman hasil ujian nasional. Tidak seperti biasanya, kali ini pengumuman diadakan di rumah wali kelas. Ini dilakukan untuk menghindari aksi coret-coret oleh para siswa.
Tiba-tiba saja wali kelasku, Pak Saar memberiku ucapan selamat karena hasil ujianku adalah yang tertinggi. Mulanya aku tidak percaya, tapi setelah melihatnya sendiri aku baru sadar kalau semua ini bukanlah mimpi. Dalam sejarah akademik, inilah prestasi terbaikku.
Semua teman-temanku langsung memberiku selamat seolah aku ini adalah seorang atlet yang baru saja memenangkan pertandingan. Aku masih saja belum percaya dengan semua ini. Orang sepertiku bisa mendapatkan nilai terbaik bahkan bisa mengalahkan Lusi yang sedari dulu selalu jadi juara kelas. Sungguh luar biasa. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari terbaikku.
27 Juni 2006
Isak tangis mewarnai pelepasan pagi itu. Banyak diantara kami yang tidak rela harus berpisah dengan guru-guru yang sudah kami anggap orangtua kami sendiri. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar buat kami. Sekolah ini adalah saksi bisu bagaimana dulu kami melewati hari-hari kami yang penuh warna disini.
Tiba-tiba dia berdiri dihadapanku, menjulurkan tangn ingin memberiku selamat. Aku menyambut uluran tangan itu dengan penuh kehangatan. Sudah lama aku merindukan saat-saat ini. Dan aku menyesal kenapa hari-hari kemarin aku tidak dekat dengannya, bukan sebagai pacar tapi sebagai sahabat, seperti yang ia bilang. Kenapa baru sekarang, setelah semuanya akan berakhir, dia baru datang padaku. Hari ini adalah saksi dimana aku terakhir kali bertemu dengannya…
Tapi sebelum Lusi benar-benar pergi dari kehidupanku, ia memberikan sebuah kado perpisahan yang terindah buatku. Senyum terakhir dan terindah, khusus buatku.
4 Februari 2007
Sekarang 2 tahun sudah kejadian itu berlalu. Dan hingga kini aku masih merindukan dirinya. Bayang-bayangnya masih sering mampir di kepalaku. Entah sampai kapan perasaan ini akan terus membelenggu hatiku. Dalam hidup aku memang sudah berjanji untuk tidak melupakan kenangan indah yang terjadi kemarin. Itu semua akan aku simpan disini. Dihatiku…
Detik ini bergulir begitu cepat, tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun kenangan indah tentang dirinya akan selalu abadi, hingga aku menghembuskan nafas terakhirku dan terbujur kaku dalam istirahat panjangku. Lusi, belive me, if you always in my heart. Forefer.
Untuk Lusiana
yang telah memberiku kesempatan
untuk merasakan –pahitnya- cinta…


